Prof. Dr. Kuntaman, dr., MS., Sp.MK-K

Berpacu menjadi yang terbaik

Konsep Bio-eko-sosiokultural: Senjata mutakhir melawan wabah Dengue

diposting oleh kuntaman-fk pada 29 January 2012
di Umum - 0 komentar

Konsep BIO-EKO-SOSIO-KULTURAL: senjata mutakhir melawan wabah Dengue

 

Di dalam dunia Mikrobiologi Kedokteran, dikenal istilah mikroba, yakni makhluk kecil yang sulit dilihat dengan mata telanjang atau tidak kasat mata. Untuk itu secara umum ada beberapa kelompok makhluk mikroskopis, seperti amuba, jamur, bakteri dan virus. Selanjutnya dalam istilah umum, jamur, bakteri dan virus dikenal dengan nama mikroba. Virus umumnya berukuran 200 milimikron atau lebih kecil. Sedangkan amuba dan beberapa makhluk yang sedikit lebih besar dikenal dengan nama parasit.

 

Penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus Dengue, dikenal ada beberapa jenis, tergantung seberapa kegawatan penyakitnya. Bisa berbentuk Demam Dengue (DD) yang secara umum ditandai panas badan seperti flu, Demam Berdarah Dengue (DBD) yang disertai tanda tanda perdarahan akibat gangguan pembekuan darah, dan Sindroma shok Dengue ( Dengue Shock Syndrome = DSS) yang merupakan gejala yang serius dimana penderita bisa mengalami kehilangan kesadaran akibat turunnya tekanan darah. Jika ada tanda panas badan seperti flu dan disertai perdarahan seperti mimisen, atau bercak/titik kemerahan di kulit, patut dicurigai DBD. Pada keadaan ini biasanya panas meningkat sangat tinggi, bisa mencapai 40-41 C.

 

Penyakit Demam Dengue (DD) ditularkan oleh nyamuk yang dikenal dengan nama Aedes aegypti, disamping Aedes yang lain. Nyamuk ini disebut sebagai Vektor virus Dengue. Mengapa? karena di sinilah virus Dengue bersarang, tumbuh dan berbiak, selain juga tumbuh dan berbiak di tubuh manusia. Dari nyamuk, virus berpindah ke manusia melalui gigitan, karena virus sangat banyak berada di liur nyamuk. Juga melalui nyamuk, virus berpindah dan menular antar manusia. Selain virus Dengue, nyamuk ini juga bisa menjadi vector virus Chikungunya dan Yellow Fever.

 

Perilaku nyamuk sangat khas, hidup kesukaan di air jernih untuk bertelur dan menyimpan telurnya, aktif di siang hari. Nyamuk Aedes ditandai warna gelap, disertai bercak/garis putih di tubuh dan kakinya, juga ujung moncong/belalainya. Nyamuk dalam keadaan normal, untuk bertelur (betina) membutuhkan makanan khusus, yakni darah, bisa darah hewan maupun manusia. Kesukaan menggigit khususnya di dalam ruang, di tempat yang teduh atau suasana mendung.  Waktu menggigit biasa siang hari, umumnya 2 jam setelah matahari terbit dan 2 jam sebelum matahari terbenam. Telur ini akan  menetas dalam sehari, dan dalam 4 hari berubah menjadi kepompong , dan dalam waktu 1-4 hari berubah jadi nyamuk. Artinya setiap gigitan nyamuk berarti produksi telur makin banyak dan perkembangbiakan nyamuk makin banyak pula. Karena itu gigitan nyamuk berfungsi ganda, mempertahankan siklus kehidupan dan menyebarkan virus antar manusia, bahkan hewan. Nyamuk dewasa bisa hidup dalam 2-4 minggu, sedangkan telur nyamuk bisa tahan dalam keadaan kering sampai satu tahun. Ini yang mengakibatkan keadaan endemis selalu menjadi ancaman. Nyamuk biasanya bertelur 3 hari setelah menggigit dan menghisap darah manusia. Jika manusia tersebut adalah penderita DD, maka dalam 7 hari nyamuk yang menggigit tersebut sudah bisa menularkan virus kembali. Usia rata-rata nyamuk adalah 2 minggu, dan selama ini bisa tiga kali mengeluarkan telur, dimana rata-rata telur yang bisa dihasilkan adalah 100 butir setiap kali waktu bertelur.

Jadi nyamuk Aedes, bisa berfungsi ganda, sebagai pusat produksi virus, dan sebagai penyebar virus. Pada percobaan di laboratorium, dimana nyamuk hanya diberi makanan air gula, ternyata tidak mampu menghasilkan telur.

 

Hal yang perlu mendapat perhatian dalam memberantas penyakit Dengue adalah, bagaimana memotong mata rantai penyakit DD tersebut. Kalau ditelaah berdasar siklus kehidupan tersebut di atas, memberantas DD seharusnya melalui dua cara utama:

1. Membatasi populasi nyamuk sebagai vektor virus Dengue, hal ini bisa melalui membunuh nyamuk yang ada, membunuh jentik nyamuk sebagai siklus awal kehidupan nyamuk, atau mempersempit lokasi kehidupan nyamuk yakni genangan air yang biasanya meningkat saat musim hujan. Diketahui bahwa kejadian DD makin meningkat saat musim hujan, artinya peran keberadaan nyamuk termasuk jentiknya menjadi faktor penting. Artinya faktor ekologi biota nyamuk memiliki peran sentral. Hal yang penting disini adalah kita masyarakat sebagai makhluk sosial sangat dibutuhkan peran kita. Mengapa? Karena nyamuk tidak hanya berasal dari rumah kita sendiri, namun bisa dari rumah tetangga, baik dekat maupun agak jauh, tidak memandang rumah kotor maupun bersih. Jadi peran kebersamaan untuk menghalau nyamuk ini menjadi maha penting. Artinya kita harus membangun kultur berkehidupan higienis secara khusus dan bersama untuk menghalau nyamuk. Perlu diaktifkan peran ibu-ibu PKK, Dasawisma, dan juga siswa pelajar (SD, SMP dan SMA), sehingga tidak hanya mengandalkan petugas kesehatan yang jumlahnya terbatas dan bebannya sangat berat. Kelompok masyarakat ini perlu diberdayakan, melalui sosialisasi dan pelatihan. Khususnya pelatihan bagaimana mengenali nyamuk, mengenali jentik nyamuk dan mengenali tempat hidupnya nyamuk. Dilanjutkan dengan bagaimana memberantasnya. Bagi yang membutuhkan pelatihan bisa secara aktif menghubungi petugas kesehatan setempat, atau Fakultas Kedokteran/Rumah Sakit Pendidikan setempat. Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga telah juga memiliki program pelatihan untuk hal tekait, dengan konsep BIO-EKO-SOSIO-KULTURAL. Pada awal musim hujan ini adalah momen tebaik bagi para stakeholders, baik Pemda, Petugas kesehatan, Pengurus kampung dan tidak ketinggalan Perguruan tinggi bidang Kesehatan/Fakultas Kedokteran, secara bersama melakukan sosialisasi dan pelatihan bagi masyarakat luas, baik siswa-pelajar, ibu-ibu maupun aktifis sosial yang lain. Penyemprotan dengan asap untuk mengusir nyamuk bermanfaat juga, namun jika hanya itu yang diandalkan, akan gagal menghalau nyamuk secara sempurna. Jentik tentunya bisa lolos dari semprotan asap, dan segera menjadi dewasa berbentuk nyamuk kembali. Untuk memberantas jentik bisa pula menggunakan bahan khemikal khusus, seperti ABATE dengan dosis 1 gram per 10 liter air.  Hal yang sangat penting juga adalah menghilangkan tempat hidup nyamuk, seperti genangan air di pecahan gelas, kaleng, tempurung kelapa atau genangan air yang lain.

 

2. Strategi ke dua adalah melawan virus itu sendiri agar tidak masuk dan menyebabkan penyakit di tubuh manusia, dengan cara mencegah agar nyamuk tidak menggigit manusia dan kalau virus sudah masuk tubuh bisa dilawan dengan penangkal. Bagaimana menangkal agar tidak digigit nyamuk, perlu sosialisasi berkala tentang kehidupan nyamuk, khususnya kehidupan nyamuk yang lebih aktif di siang hari, sehingga pada jam-jam tersebut perlu perhatian khusus bagi keluarga, misalnya penggunaan minyak oles pengusir nyamuk atau perangkap nyamuk yang banyak dijual di pasaran atau juga penggunaan kelambu di tempat tidur anak-anak kita. Terutama hal ini perlu perhatian khusus saat awal musim hujan, dan khususnya di daerah endemis atau ada kasus DD/DBD. Hal berikutnya jika sudah terlanjur digigit nyamuk, bagaimana kita melawan virus tersebut. Secara umum adalah vaksinasi untuk melawan virus, namun sayang sekali sampai saat ini belum ada vaksin yang secara massal sudah diakui mampu menjadi pelindung terhadap serangan tubuh oleh virus Dengue. Beberapa vaksin sudah mulai dikenalkan namun sampai saat ini belum bisa diterapkan secara aman dan efektif. Keadaan yang lebih mengkhawatirkan adalah bagi yang pernah digigit nyamuk dan virus masuk tubuh, jika terinfeksi ulang di masa depan, ada kemungkinan tipe penyakit DD yang diderita cenderung lebih parah, yang sering dikenal dengan DBD maupun DSS, dan jika hal ini yang terjadi, maka kesembuhannya menjadi lebih rendah, bahkan sering merenggut nyawa. Jika hal ini terjadi, satu-satunya cara adalah segera masuk rumah sakit, agar keseimbangan elektrolit dan cairan tubuhnya bisa diawasi secara ketat, sampai betul-betul dinyatakan aman. Obat anti virus secara ilmiah bisa dipergunakan, namun sampai kini belum ditemukan cara yang efektif dan efisien melawan virus Dengue, disamping sering sudah terlambat. Karena itu pula deteksi dini DD menjadi sangat penting, termasuk sistem rujukannya. Untuk itu kewaspadaan terhadap DD, khususnya mengarah ke DBD atau DSS perlu juga disosialisasikan dan kegiatan pelatihan khusus. Hati-hati penggunaan obat panas seperti golongan aspirin atau brufen, karena bisa mempercepat ke fase DBD akibat gangguan pembekuan darah.

 

Sebagai penutup, strategi khusus sangat dibutuhkan untuk mengatasi Demam Dengue, dokter tidak bisa berdiri sendiri, peran semua pihak sangat sangat dibutuhkan dengan sasaran uama, menekan populasi nyamuk, deteksi dini DD, dan sistem rujukan. Pendekatan Bio-eko-sosio-kultural dipandang sangat tepat diterapkan sebagai kebijakan

umum melawan ganasnya Demam Dengue/Demam Berdarah Dengue.

 

Penulis adalah Guru Besar Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga / RSUD Dr. Soetomo Surabaya.

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :