Prof. Dr. Kuntaman, dr., MS., Sp.MK-K

Berpacu menjadi yang terbaik

Excellence with Morality (3)

diposting oleh kuntaman-fk pada 30 October 2018
di Umum - 0 komentar

Excellence with Morality:

APA DAN BAGAIMANA MENERAPKANNYA

(Edisi-3)

 

Oleh:

Kuntaman

Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga

kuntaman@fk.unair.ac.id 

4 Oktober 2010

 

Telah saya sampaikan dua hal mendasar dari Excellence with Morality pada tulisan edisi-1, impelemntasi dalam proses belajar untuk menciptakan keadaan ekselen pada edisi-2, dan hal terakhir pada edisi-3 yang agak membutuhkan konsentrasi khusus adalah tentang MORALITY yang agamis. Kami akan mencoba mengurai dari aspek moral kemudian bagaimana menghubungkan dengan SIFAT AGAMIS atau selalu mengkaitkan segala perilaku profesi berdasarkan ajaran agama.

Kami ulangi, semoga para pembaca setuju tentang salah satu aspek moralitas yang dicanangkan oleh Josephson Institute of Ethic, tentang ‘Good character’ yang terdiri 6 pilar kharakter yakni:

  1. Trustworthiness, kharakter jujur dan tidak berdusta
  2. Responsibility, bersikap disiplin dan bertanggung jawab untuk sesuatu yang sudah menjadi pilihannya.
  3. Respect, memperlakukan orang lain dengan hormat, santun, tidak ‘suka’ melukai orang lain atau berperilaku ‘the golden rule’
  4. Fairness, mau berbagi dengan sesama, jangan suka menyalahkan orang lain, apalagi mencari-cari kesalahan orang lain.
  5. Caring, bertindak ramah dan peduli orang lain, suka pemaaf dan membantu bagi yang membutuhkan.
  6. Citizenship, berperan aktif dan mengembangkan komunitas sekitar, bekerjsama dengan baik dan menghargai otoritas.

Sejawat pengampu Agama Katolik menambahkan karakter FIDELITY (Kesetiaan akan firman Allah) dan LOVE (Kasih tanpa batas) (I Korintus 13: 1-13), yang tersirat rasanya sudah masuk dalam 6 kharakter tersebut.  Rasanya, saya sudah sangat setuju dan puas kalau 6 pilar dari The Josephson Institute of Ethic ini dijadikan modal dasar untuk memiliki kharakter yang baik. Masalahnya adalah dimana kita meletakkan fungsi kata AGAMIS pada kharakter yang kita tuntut tersebut. Yang menjadi pertanyaan saya pertama adalah, apakah semua 6 pilar tersebut terdapat dalam ajaran agama. Kalau jawabannya YA, maka pertanyaan berikutnya adalah, apakah semua agama memiliki jawaban yang sama. Saya tidak bermaksud mempertentangkan agama satu terhadap yang lain, minimal kalau ada sebagian pilar yang disetujui, paling tidak sebagian kharakter AGAMIS  sudah terpenuhi di dalam pernyataan tersebut, tinggal menambah beebrapa kharakter agamis yang lain. Untuk yang satu ini kami perlu bertemu dan minta pendapat para SUHU atau agamawan/agamawati di masing-masing agama/kepercayaan. Hasil diskusi saya dengan para agamawan masing-masing agama bisa disimpulkan bahwa setuju dengan 6 kharakter tersebut dan sifat agamis sudah tersirat di dalamnya.  Agama yang kami ambil adalah agama yang biasanya memberi kuliah di lingkungan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FKUA), Agama Islam (Udji Asiyah), Agama Hindu (I Ketut Arta), Agama Katolik (Moses Glorino Rumambo Pandin, S.S., M.Si.)

Dari pendapat para agamawan, sekarang kita bisa membuat makna yang lebih agamis, dengan menggabung 6 pilar kharakter dengan ajaran yang terkandung dalam Kitab Suci masing-masing agama dan dirupakan dalam bentuk proses pembelajaran PBL (Problem Base Learning). Mengapa melalui modul PBL?, oleh karena dengan metode ini, maka siswa dilatih menghadapi persoalan nyata yang akan ditemui di lapangan, dan mereka bisa atau paling tidak bisa mengantisipasi persoalan tersebut menurut pendekatan agamanya masing-masing. Di dalam Modul PBL, dipilihkan kasus-kasus yang memang memiliki kaitan erat dengan perasaan hati, pikiran dan perilaku profesional. Sebagai contoh di bidang Kedokteran, tentang ABORTUS, HAK EUTHANASIA, BAYI TABUNG, IBU SEWA (SURROGATE MOTHER), TRANSPLANTASI ORGAN, BANK JARINGAN/ORGAN, KELUARGA BERENCANA, dan lain-lain. Kejadian ini sering ditemukan di dunia Kedokteran. Misalnya Hak Euthanasia seorang yang menderita kanker yang sudah sangat parah, hidup vegetatif (sangat tergantung dari bantuan luar, tidak ada rasa dan karsa, tetapi jantung dan parunya masih berjalan karena pakai mesin dsb), tidak mungkin disembuhkan (tetapi sebatas menurut ukuran profesi kedokteran), untuk merawat memerlukan biaya mahal dan seterusnya. Seorang penderita dalam kasus tersebut atau mungkin saudaranya, anaknya, bapaknya, isterinya bahkan cucunya, bisa saja berpikir tentang makna hidup bagi dia, sehingga berujung pada keinginan (kesimpulan si manusia) si penderita untuk MENGAKHIRI HIDUP-nya saja artinya minta semua mesin-mesin kehidupannya dicabut saja. Begitu sederhana jalan mereka menghadapi hal tersebut, dimana hidup mereka dihitung secara matematik. Nah, hal inilah yang nanti dibahas dari sudut profesi seperti apa, dari sudut agama seperti apa, mungkin dari sudut kemanusiaan seperti apa, dan dari sudut alam semesta seperti apa, dan mungkin masih banyak lagi dari sudut-sudut yang lain. Demikian pula dengan tindakan abortus yang dilakukan oleh profesi kesehatan.

Sebagai contoh tentang tindakan melakukan abortus oleh profesi Kedokteran dipandang dari pandangan agama dari hasil diskusi kami dengan para agamawan.

Islam mengharamkan tindakan abortus kecuali yang dibenarkan oleh syariat. Hal ini misalnya, kehamilan yang mengancam ibu, bisa dilakukan penghentian kehamilan (Udji Asiyah, Dosen Agama Islam FKUA). Dikatakan juga bahwa hukumnya makruh untuk menggugurkan kehamilan pada keadaan berikut ini: usia kehamilan kurang 40 hari, suami/isteri sakit Skizofren berat atau janin dengan cacat genetik yang sulit sembuh atau hamil akibat perkosaan (Udji Asiyah). Mengapa 40 hari, bisa disimak dalam kotak teks berikut ini:

HR. Muslim dari Huzaifah bin Asid:

Jika nuthfah melewati 42 malam, maka Tuhan mengutus malaikat untuk membentuk rupa, pendengaran, penglihatan, kulit, daging dan tulangnya. Malaikat bertanya, “Ya Tuhan, lelaki atau perempuan?” Allah pun memutuskan sesuai kehendak-Nya dan malaikat mencatatnya....

Hadist riwayat muslim dari Hudzaifah bin Asid: ...maka ketika maksimal kehamilan 40 hari setelah konsepsi, hukumnya makruh untuk melakukan aborsi.

 

Agama Hindu mengatakan bahwa menggugurkan kehamilan dilarang kecuali untuk menyelamatkan ibu. Hal ini sebagaimana Kitab Canti Parwa, 9.10: Prabawarthaya bhutanam prawacanam kartamiyasyat, Prabhawancam yuktah sadharma itu ni cayah.

Agama Katolik bersifat senada, Anak adalah anugerah Penciptaan Allah (1 Korintus 8:6) sehingga penghentian paksa terhadap  kehamilan bukan hanya berarti berbuat kekejaman terhadap sesama ciptaan, tetapi juga merusak karya Allah. Allah membela orang-orang yang lemah tak berdaya dan tidak menghendaki kematiannya. (Kitab Injil Matius 12:20, dan Injil Markus 9:42) (Moses Glorino Rumambo Pandin, Dosen Agama Katolik FKUA). Ajaran gereja lainnya seperti Gaudium et Spes no 27 dan 5; Humanae Hitae no 14; Declaration on Procured Abortion no: 11, 12, 14 – 18; Donum Vitae I, 1; Katekismus universal no: 2270 dan 2272, menegaskan penghargaan terhadap hidup manusia sejak saat pertama kali keberadaannya (pembuahan). Dalam iman katolik pelaku aborsi terkena hukuman ekskomunikasi latae sententiae (kitab hukum kanonik no: 1329). Agama Katolik tidak bisa menerima aborsi demi untuk menyelematkan ibu, karena  dianggap sulit menilai yang mana lebih bernilai diantara dua nyawa tersebut, ibu atau anak. Hanya sebisanya diselamatkan dua-duanya (Eksiklik Casti Cannubi 31 Desember 1930).

Masalah yang timbul, kompetensi seperti apa yang bisa dirumuskan secara tersurat dan tersirat di dalam SAP (Satuan Acara Perkuliahan)?. Untuk itu kita perlu lagi acara sarapan pagi bidang satu di tempat LP3UA – Prof. Widji dan bertemu membahas sistem pembelajaran untuk memenuhi tujuan menciptakan siswa yang bermoralitas-agamis di lingkungan Universitas Airlangga. Satu hal yang bisa ditawarkan adalah metode pembelajaran Problem Based Learning (PBL), dimana problemnya adalah salah satu topik-topik di atas, yang dibahas sesuai agamanya masing-masing, dan diselingi kuliah pakar dari profesi yang bersangkutan dan agama yang bersangkutan. Hal yang penting adalah menginventarisasi topik-topik yang diperkirakan akan ditemui di lapangan pada saat lulusan bekerja di masyarakat, sesuai ilmu yang diberikan di masing-masing fakultas. Keluaran pembelajaran adalah jika siswa nanti setelah lulus menghadapi problem yang sama, maka jawabannya sudah ada sesuai bahasan saat pembelajaran tersebut, yang mendasarkan pengetahuan dan ketrampilan profesional yang dilandasi pemahaman agamanya masing-masing. Kami menyebutnya MORALITAS YANG AGAMIS dalam menjalankan profesinya. Secara umum akan menghasilkan pemahaman yang sama (diharapkan sama), kecuali beberapa hal kecil yang bisa berbeda antar agama.

Setelah kami selesaikan tiga tulisan ini (Edisi-1, Edisi-2 dan Edisi-3), semoga jelas gambaran kita mengenai membentuk Lulusan yang ekselen yang didasari moralitas yang agamis menuju Universitas Airlangga dengan motto  Excellence with Morality. 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :