Prof. Dr. Kuntaman, dr., MS., Sp.MK-K

Berpacu menjadi yang terbaik

Excellence with Morality (2)

diposting oleh kuntaman-fk pada 30 October 2018
di Umum - 0 komentar

Excellence with Morality:

APA DAN BAGAIMANA MENERAPKANNYA

(Edisi-2)

 

Oleh:

Kuntaman

Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga

kuntaman@fk.unair.ac.id

20 September 2010

 

Sebelum kami membahas tulisan ke dua ini, kami remind lagi tentang konsep pada tulisan pertama. Bahwa untuk menciptakan lulusan yang excellence with morality, ternyata perlu dua unsur yakni: 1). Secara alami mereka harus memiliki talenta atau ability untuk menjadi excellence; 2). Pribadi siswa yang excellent itu haruslah diberi bekal, agar dalam perjalanan hidupnya bisa memelihara PROFITABLE GROWTH  di bidangnya. Tentu saja bagaimana mungkin seorang yang sangat hebat di dalam pencapaian belajarnya di perguruan tinggi misalnya di Fakultas Kedokteran (untuk menjadi dokter), kemudian si dianya memilih pekerjaan lain, misalnya reporter TVRI.. Kalau mau excellence di bidang kedokteran pasti pikiran menjadi tercerai-berai. Jadi kami ulangi lagi, syarat menjadi excellence harus mempunyai talenta yang sudah dikembangkan di UNAIR-BHMN, dan talenta tersebut dikembangkan terus sampai setelah lulus.

Jadi untuk menuju ke arah tersebut, di dalam sistem pendidikan haruslah ada dua kebijakan khusus, yakni bagaimana untuk mendapatkan anak muda yang talent, dan kedua sistem pembelajaran soft skill untuk membangun atau membangunkan talent yang telah didapat untuk terus tumbuh dan berkembang, in both inside and outside  the campus. Waah ada kata outside the campus ini yang bikin pekerjaan teman2 bidang III menjadi tambah banyak, karena mereka sudah tersebar ke seluruh penjuru tanah air alias sudah menjadi ALUMNI. Tetapi alhamdulillah, selama kepemimpinan UNAIR-BHMN 2007-2010 yang akan berlalu ini, strong engagement   terhadap peran alumni dijadikan program yang penting. Terima kasih Bapak Rektor. Tinggal menghitung berapa banyak kepengurusan alumni yang tersebar di Indonesia dan bagaimana untuk selanjutnya kita membuat program untuk meningkatkan peran mereka.

Sebuah ilustrasi skema web writing tentang implementasi pembelajaran di gambar 1 bisa mempermudah cakrawala pemahaman pembelajaran dua unsur tersebut. Pada gambar tesebut, terlihat dua tahapan mendidik untuk menghasilkan lulusan yang cerdas dan lulusan yang ekselen. Makna kalimat ini, ada beda antara talent dan excellent.

MABA yang talent

(berbakat)

 

UNAIR-BHMN yang talent juga 

(berbakat)

 

LULUSAN yang talent

(berbakat)

 

UNAIR-BHMN yang Excellence 

(berbakat)

 

Pembelejaran

Soft skill 

(berbakat)

 

Profitable growth

 

Personal/Morality

Soft skill 

(berbakat)

 

Professional

Soft skill 

(berbakat)

 

LULUSAN yang Excellence (berbakat)

 

Pembelejaran

Hard skill 

(berbakat)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1: Skema pembentukan lulusan yang excellent di UNAIR-BHMN

                  MABA = Mahasiswa baru

 

Satu hal yang sangat menguntungkan keadaan di dalam UNAIR-BHMN yakni keadaan yang GROWTH sudah terbentuk bahkan sudah menjadi CULTURE, artinya setiap the future, selalu ada kemajuan yang diprogram, baik administratif tata kelola maupun teknis implementasi pendidikan. Bagi kita di Bidang I, sering melakukan pertemuan-pertemuan yang dikoordinir Prof. Dr. Ni Nyoman Tri Puspaningsih dan juga Prof. Widji Soeratri, PhD,  biasanya bu Widji masak untuk sarapan pagi kami semua, rapat bisa lebih santai sebelum sibuk di pekerjaan masing-masing.

Selanjutnya kami coba membahas satu persatu kotak-kotak yang ada di web scheme saya di gambar 1.

Untuk mendapatkan mahasiswa tang talent, kita memiliki PPMB, dan disinilah kita bisa membahas bersama merancang program kerja untuk mendapat siswa yang cerdas dan berbakat (ada dua kata cerdas berarti dari sono-nya pinter, berbakat artinya pinternya memang sudah dari sono-nya. Mesti kita bingung menangkap kata-kata ini, dan tolong sejawat dari Fakultas Psikologi, membantu saya menterjemahkan tulisan ini). Kalau kita simak sistem penerimaan MABA kita di UNAIR-BHMN, kan prinsipnya ada tiga jalur, yakni: 1). Jalur Prestasi, 2). Jalur SNM-PTN dan 3). Jalur PMDK. Bisakah kita menjaring dan membedakan MABA yang lolos tes karena cerdas asli atau karena ikut bimbingan tes. Artinya saat di Papua sono ada seorang bocah SMU yang bisa memenangkan olimpiade fisika kemudian saat tes masuk tidak lolos, atau arek Suroboyo yang memenangkan medali emas pada lomba internasional kimia, atau arek Gresik yang mendapatkan NEM tertinggi, mampu diantisipasi oleh sistem kita?. Pastilah hal ini sudah terpikir dan masuk dalam program, hanya kita tinggal meng-‘improve’ bagaimana secara teknis pelaksanaan tujuan ini bisa tercapai. Ini tugas berat pak Soebianto, tentunya bersama kita semua untuk selalu meng-improve dalam hal paradigm dan technical-implementation.

Selanjutnya tentang sistem pembelajaran di fakultas kita masing-masing, atau bagaimana mewariskan HARD SKILL bagi lulusan kita untuk menjadi mahasiswa dan lulusan yang talent (masih talent lho ya, belum membuat excellent). Di Fakultas Kedokteran, kami ambil salah satu contoh Prodi Pendidikan Dokter, dalam target sistem pembelajaran seorang dokter, diwajibkan setelah lulus, memiliki kompetensi (kemampuan ilmu dan ketrampilan) di dalam 7 area, seperti pada tabel 1

Tabel 1: Tujuh area kompetensi utama pada Pendidikan Dokter

  1. Ketrampilan komunikasi efektif
  2. Ketrampilan klinik dasar
  3. Ketrampilan menerapkan dasar-dasar ilmu biomedik, ilmu klinik, ilmu perilaku dan epidemiologi dalam praktek kedokteran keluarga.
  4. Ketrampilan pengelolaan masalah kesehatan pada individu, keluarga ataupun masyarakat dengan cara yang komprehensif, holistic, bersinambung, terkoordinir dan bekerja sama dalam konteks Pelayanan Kesehatan Primer.
  5. Memanfaatkan, menilai secara kritis dan mengelola informasi.
  6. Mawas diri dan pengembangan diri/belajar sepanjang hayat.
  7. Etika, moral dan profesionalisme dalam praktik.

 

 

Jika ditelaah di dalam kompetensi ini sudah terkandung dua unsur Hard Skill dan Soft Skill. Di dalam pembelajaran Hard Skill sudah terprogram dengan jelas, bagaimana seorang siswa yang lulus dokter bisa melakukan pekerjaan tertentu, tergantung Tingkat Kompetensi yang diinginkan, sebagai contoh seperti pada tabel 2.

 

    Tabel 2: Tingkatan kompetensi (Level of competence) ketrampilan

Tingkatan Kompetensi

Uraian

1

Tahu teori saja, tentang kompetensi atau ketrampilan yang dituntut

2

Tahu teori, tahu cara melakukan ketrampilan dari demo pakar

3

Tahu teori, bisa melakukan ketrampilan khusus, di dalam bimbingan

4

Tahu, dan bisa melakukan ketrampilan secara mandiri dan rutin

 

 Karena itu di dalam pedoman pembelajaran juga mengacu pada tujuan tersebut, apakah seorang siswa cukup dibekali ilmu saja, atau perlu ditunjukkan contoh melakukan sesuatu ketrampilan, atau diberi contoh dan mencoba suatu tindakan, ataupun harus melakukan secara rutin secara penuh, tentang kompetensi yang diinginkan. Karena itu kami mengenal kompetensi level 1,2,3 dan 4. Namun bagaimana dengan pembelajaran Soft Skill??

Untuk peningkatan sistem pembelajaran soft skill, kita semua harus bekerja keras, seperti apa model yang tepat untuk pendidikan ini sehingga keinginan kita tercapai, untuk menuju pembentukan kharakter mahasiswa yang ekselen dengan mralitas tinggi. Saya ulangi sekali lagi bahwa menurut kami, ekselen haruslah berkonotasi bahwa siswa lulusan kita bisa mengembangkan ‘Profitable growth’ profesinya  maupun perannya di dalam mengampu keilmuannya, baik untuk dirinya, lingkungan kerjanya maupun masyarakat luas. Ide SKP (Satuan Kredit Prestasi) yang dikembangkan UNAIR-BHMN bagi kami merupakan wadah, mungkin merupakan tempat utama untuk membentuk siswa yang ekselen. Jadi indikatornya salah satu adalah bagaimana perilaku prestatif siswa tersebut selama proses pendidikan bisa diamati bisa menjadi culture. Masalahnya SKP adalah suatu portfolio bahwa sudah melakukan sesuatu. Bagi kita yang penting adalah sesuatu itu menuju ke  ‘Profitable growth’ tadi. Artinya siswa ini nantinya bisa diprediksi menjadi pribadi yang chamic (tolong ditilik kembali pada tulisan saya pertama) serta bisa mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Hal yang lebih membutuhkan pemikiran lebih jauh adalah membentuk lulusan yang tidak hanya excellent, namun juga memiliki MORALITY yang berdasarkan agamanya atau saya istilahkan MORALITAS YANG AGAMIS. Untuk hal yang satu akan kami ulas di terbitan berikutnya (edisi 3).

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :