Prof. Dr. Kuntaman, dr., MS., Sp.MK-K

Berpacu menjadi yang terbaik

Excellence with Morality (1)

diposting oleh kuntaman-fk pada 30 October 2018
di Umum - 0 komentar

Excellence with Morality:

APA DAN BAGAIMANA MENERAPKANNYA

(Edisi-1)

 

Oleh:

Kuntaman

Wakil Dekan I Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga

2007-2010

kuntaman@fk.unair.ac.id 

17 September 2010

 

Sejak pertama kali PTN Univesitas Airlangga ‘memproklamirkan’ diri sebagai UNAIR-BHMN pada tahun 2006 melalui PP No.30/2006, ada satu frasa kata yang sangat menyentuh hati dan menggema di seluruh kalbu para Civitas Academica, yakni EXCELLENCE WITH MORALITY. Begitu populernya kata tersebut, sepanjang pengamatan kami, mulai Pucuk pimpinan Universitas Airlangga, Pucuk Pimpinan Fakultas sampai yang namanya pegawai administrasi, tenaga ekspedisi dan bahkan tenaga Cleaning Service di FKUA yang saya tanya, mengetahui adanya istilah tersebut. Namun sewaktu kami berbincang ringan dengan kolega beberapa sejawat mereka selalu bertanya bentuk impelementasi dalam proses pendidikan seperti apa?, walaupun mereka bisa merasakannya. Dalam kerangka menghangatnya suasana pemilihan DEKAN, pastilah para BAKAL CALON DEKAN akan mencoba bagaimana menterjemahkan Motto yang sangat ‘sakral’ tersebut ke dalam tindakan nyata dalam membangun Fakultas, sekaligus membangun UNAIR-BHMN.

Kami menyadari bahwa istilah Excellence with Morality tersebut istilah sosial yang mengandung banyak abstraksi, barangkali bagi sejawat di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik atau mungkin Fakultas Ilmu Budaya, ataupun Fakultas Psikologi akan lebih mudah melakukan abstraksi istilah tersebut, walaupun mungkin mereka saling memiliki versi makna beragam. Padahal, untuk kebijakan secara generik di Universitas Airlangga, diperlukan satu standard makna, dan standard implementasi yang transparan dan akuntabel, dan bahkan mudah dicerna oleh seluruh Stakeholder, baik Civitas Academica maupun Alumni dan para pengampu kepentingan yang lain dimana pun mereka berada, di KAMPUS, di RUMAH SAKIT, di LINGKUNGAN MASYARAKAT, di KANTOR PEMERINTAH dan mungkin di dalam PESAWAT TERBANG yang lagi terbang tinggi.

Dua makna yang selama ini dipahami oleh masyarakat kampus, Excellence artinya bagus atau mutu tinggi dan Morality artinya berperilaku (profesional) baik yang didasari moral agama. Makna ini seolah seperti ‘PEMBUKAAN  UUD-45’, untuk bisa mengimplementasikan diperlukan pemaknaan-pemaknaan lebih lanjut yang lebih terukur dan akuntabel. Untuk itu penulis mencoba sedikit menyumbangkan pemikiran untuk ‘mengulas’ makna Excellence with Morality yang mudah-mudahan bisa diterjemahkan dalam kegiatan rutin di bidang akademik kemahasiswaan pada proses belajar mengajar di lingkungan UNAIR-BHMN.

Saat saya baca Surat Kabar harian Jawa Pos  28 April 2010, kebetulan pada edisi ini Hermawan Kartadjaya menulis tentang pengembangan SDM yang Excellence untuk kepentingan bisnis, dan kebetulan pada saat itu kami para Wadek 1 di lingkungan UNAIR-BHMN sedang mengadakan pertemuan yang dipimpin oleh Prof. Widji Soeratri, sebagai Ketua LP3UA, membahas bagaimana mengembangkan modul pembejaran menuju Moralitas yang baik dengan didasari pemahaman agama yang kuat. Seperti yang saat itu FFUA sudah menerapkan Mata Ajar Agama-2 yang bersifat penguasan agama dalam implementasi profesi atau penguasaan profesi berbasis pemahaman agama. Dari peserta rapat memiliki pendapat yang sangat beragam tentang konsep modul pembelajaran menuju morality. Dari tulisan Hermawan Kartadjaya dan suasana membahas Mata Ajar menuju moralitas itu saya mencoba menganalogikan ke dalam sistem pendidikan di Mahasiswa Kedokteran pada khususnya dan UNAIR-BHMN pada umumnya.

Sebenarnya kalau kita bisa mendatangkan Hermawan Kartajaya, membahas tentang konsep Excellence yang dikembangkannya, akan sangat bermanfaat.Namun biaya mendatangkan mahal (mungkin bukan puluhan juta tapi bisa ratusan  juta??, saya tidak tahu pasti ... harus tender barang kali?? Wah lama sekali. Tapi kalau Hermawan berkenan menyumbangkan diri untuk presentasi di lingkungan UNAIR-BHMN waah  very good. We will highly appreciate to him.

Siapakah yang ‘BERKOMPETEN’ mengatakan seorang lulusan adalah Excellence with Morality??. Apakah dosen, apakah pimpinan di lingkungan kampus atau masyarakat luas? In both inside and outside the campus ??. Dinyatakan bahwa kualitas seseorang lulusan sebuah perguruan tinggi, ternyata tidak serta merta didasarkan pada hasil IPK yang tinggi maupun cepatnya lulus pendidikan, namun terutama ditentukan oleh kecerdasan emosionalnya atau lebih sering diistilahkan dengan soft skill. Bahkan diprediksi peran soft skill bisa mencapai 80% faktor yang menentukan Excellence with Morality. Artinya untuk menyiapkan lulusan yang Excellence wih Morality, perlu pembekalan soft skill yang lebih signifikan. Hal ini mengingatkan konsep ‘EMPAT KUADRAN’-nya Prof. Dr. M. Zainudin, mantan Warek 1 UNAIR-BHMN periode 2006/2007 sd 2010

Di dalam tulisan Hermawan Kartajaya (Jawa pos, 28 April 2010), dinyatakan bahwa untuk menciptakan SDM yang ekselen atau kualitas unggul, diperlukan agar bisnis maju, dan majunya bisnis ditentukan kekuatan untuk tumbuh (Profitable growth). Jadi pernyataan ‘Profitable growth’ ini menjadi penting, dan menurut saya paradigma growth ini penting di dalam mendifinisikan Excellence. Untuk itu dibutuhkan SDM yang kualitasnya juga tumbuh, tidak hanya baik dan berhenti, sehingga akan kalah dengan orang yang kualitasnya lebih rendah tapi tumbuh terus, dan untuk itu dibutuhkan empat elemen (Kartajaya,2010) yakni:

  1. ‘Commitment’ atau ‘Purpose’ yang berarti seseorang untuk bisa menjadi ‘the best’ harus memiliki semangat untuk menjadi ‘the best’ atau semangat untuk menang. Ya jelas saja mana bisa menjadi ‘the best’ kalau tidak ada usaha atau keinginan menjadi ‘the best’
  2. Opening your gift or ability. Setiap manusia selalu diberi oleh Tuhan YME, potensi untuk menjadi ‘the best’, minimal satu area tertentu. Saya ingat Wadek-1 Fakultas Psikologi (Ibu Nurul Hartini, S.Psi., M.Kes.), yang beliaunya sangat ‘Excellent’ di dalam membuat dan membaca puisi. Ingat di sini ada dua kata ‘membuat’ dan ‘membaca’ puisi, jadi ada dua ‘ability’ to be ‘the best’ pada dua hal. Untuk menjadi’TERUS’ the best, maka kemampuan ini perlu ditumbuhkan terus, agar kalau ada orang lain yang ingin mengejar, selalu jatuh di belakangnya. Sederhanakan? Kelihatannya sederhana, namun perlu energi ekstra. Jadi ‘Excellent’ bukan hanya ‘TALENTA’, namun adalah bagaimana memaksimalkan talenta tersebut.
  3. Motivation atau being the best you can be, It is not about talent, it is about getting the best shape possible given our God given potential. Jadi seorang untuk bisa dikatakan ‘Excellent’ harus ada semangat untuk maju. Mungkin perlu memiliki Roadmap prestasi diri yang jelas? Agar terarah dan terukur.
  4. Continuous improvement. We must set the bar and continually raise it from time to time. Bahasa Nipon-nya kaizen, besok hari harus lebih baik dari pada hari ini. Apalagi kalau ditambah mulailah dari yang kecil, sederhana dan mudah dan mulai sekarang juga-nya da’i kondang AA Gym, wah lebih sempurna lagi.

Kalau empat unsur ini digabung bisa menjadi chamic (Commitment, having ability, motivation dan conituous improvement) kalau kata chamic (ini singkatan saya buat sak onone) diganti Ciamik ya boleh juga. Ya model Suroboyoan

Untuk menjadikan ‘Excellent’ yang maksimal, beliau menyarankan meresapkan unsur tersebut ke dalam 6 pilar kharakter dari Josephson Institute of Ethic, tentang ‘Good character’ yakni:

  1. Trustworthiness, kharakter jujur dan tidak berdusta
  2. Responsibility, bersikap disiplin dan bertanggung jawab untuk sesuatu yang sudah menjadi pilihannya. Mungkin pas sekali kalau dianalogikan dengan peribahasa, ‘Rumput tetangga terlihat lebih hijau’. Jadi optimalkan yang kita punya, dan yang menjadi bidang garapan kita, boleh melihat orang lain, tetapi untuk meningkatkan area kita menjadi lebih baik lagi.
  3. Respect, memperlakukan orang lain dengan hormat, santun, tidak ‘suka’ melukai orang lain. Ikutilah ‘the golden rule’
  4. Fairness, mau berbagai dengan sesama, jangan suka menyalahkan orang lain, apalagi mencari-cari kesalahan orang lain. Kecuali polisi dan Jaksa memang tugasnya mencari kesalahan orang (Joke sedikit ya?)
  5. Caring, bertindak ramah dan peduli orang lain, suka pemaaf dan membantu bagi yang membutuhkan.
  6. Citizenship, berperan aktif dan mengembangkan komunitas sekitar, bekerjsama dengan baik dan menghargai otoritas.

Untuk mencapai itu semua, tidak hanya membutuhkan knowledge and skill, tapi juga ternyata membutuhkan pemahaman yang bersifat agamis.

Kembali pada persoalan awal, bagaimana kita, khususnya di lingkungan UNAIR-BHMN ini bisa mengimplementasikan proses belajar-mengajar untuk membentuk Lulusan yang ‘Excellent’ with ‘Morality’, dan khususnya bagi kami di Fakultas Kedokteran UNAIR-BHMN, yang saat ini tuntutan hukum akibat mal-praktek makin meningkat??

Kunci penting untuk menunjang hal di atas, ternyata kita harus kembali ke sistem pembelajaran ‘EMPAT KUADRAN’ yang terdiri, pembelajaran Hard skill (di Pendidikan Dokter ada 7 Kompetensi Utama), dan pembelajaran di luar kurikulum inti yang bisa dimulai dari Mahasiswa baru sampai setelah mereka lulus. Di FKUA seseorang yang sudah lulus menjelang mencari kerja selalu ada ‘PEMBEKALAN’ yang berisikan modal sedikit ilmu profesinya, dan modal banyak tentang hal-hal yang berkaitan dengan bagaimana kita bekerja nanti dan mencapai prestasi diri yang diinginkan. Sekian tulisan saya kali ini.

Konsep implementasi akan kami ulas pada tulisan saya berikutnya..... (edisi-2)

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :